Monday, September 6, 2010

WAWAWAWAWAWAWAWAAWAWAWA

maaf ya, lagi pusing mikirin english evening dan skrip yang entah mengapa enggak beres2.

jadi sanur bakal ada acara (lagi) pas bulan oktober. acaranya kek rangkaian seminggu, namanya OKTOBERFEST. ntar kalau udah keluar pengumuman resminya, saya post disini.

intinya anak bahasa 11 dan 12 akan main drama bahasa inggris pas itu. dan skripnya, udah edit sana sini, lalu oke, lalu dikasih guru buat check grammar dan saat hari H udah ga nyampe sebulan YAK GUA DISURUH BIKIN LAGI YANG BARU.

gua nggak nyalahin siapa2 sih, tapi gua nyeselin aja kenapa baru bilangnya sabtu ini? kan udah tau ceritanya dari kapan taun, kalau emang mau diganti ya bilanglah dari kemaren2. udah casting pula, bahkan udah latian! waktu udah tipis, pake acara ganti cerita pula!! GIMANA INI GIMANA HUAAAAA

mohon digarisin: saya bukan professional. kalo yang nulis orang teater koma atau orang EKI sih, sambil tidur juga bisa kali bikin skrip bagus. lah gua? nulis blog aja masih enggak jelas. mana bisa cepet2 ganti cerita. bisa sih tapi dipaksain.

DAN HARUSNYA DETIK INI GUA SEDANG LIBURAN

demi anak bahasa nih. demi kelangsungan dan ke-eksistensian angkatan bahasa selanjutnya.

udah ah, mulai kerja lagi! TOI TOI TOI TOI!

Saturday, August 28, 2010

*baca sambil denger musik yang lagi di-play.






Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

"Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini," katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.
Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan malam ini memang betulan penting.


Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh cintamu ke-I, empat tahun yang lalu. "Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?" tanyaku, berusaha santai.

"Malam ini aku lahir baru."
"Kamu... bertobat?"
"Bisa jadi itu istilahnya!" tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, "Aku... selesai."
Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.


"Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!" Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

"Kenapa?" tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, di mana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian di situ. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

"Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin." Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. "Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong..."

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

"Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku... dan segelas air putih."
Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

"Tapi... aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…" katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau jam berapapun... langsung datang..." Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.
Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu, "Keinginan itu... tidak ketinggian, kan?"

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

"Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?" Demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindakseumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

"Aku akan diam," jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.
"Diam?"
"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit..."

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan sumringah kamu berkata, "Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!"
Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

"Kamu sakit?" Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

"Ya."
"Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?"






"Ya."
Sebotol anggur putih ada di depan matamu,
tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti.
Segelas air putih.



Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: "Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..."
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring...sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."

Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi..





Thursday, August 5, 2010

sekarang lagi pelajaran TIK sih, tapi kayaknya guru baru gua, pak Awi dan pak Rio udah pasrah dengan kelas 12 bahasa, terus dia ngomong "ya udah deh materinya udah abis, kalian browsing aja deh -________- *> mukanya kayak gini"

kampret lah gua kesel abis pagi2 ini. sekarang di sekolah gua ada peraturan baru LAGI: semua anak cewek HARUS pake bando. mau kek gimanapun rambutnya. dan harus BANDO DARI SEKOLAH.

sompret lah. udah tau rambut gua pendek, poni lempar begini. kalo dibando ke atas ya jelas lah ancur. padahal gua udah berbaik hati dijepit, tetep aja tadi pagi dicegat terus gua disuruh BELI bando sekolahan yang harganya 15 RIBU RUPIAH. itu duit makan gua dua hari ya mas. kesel gua. terus kalo mau pake bando sendiri ga boleh. padahal gua udah ada sekardus itu bando dirumah. lama2 miskin gua sekolah disini!!! apa2 minta duit, minta sumbangan, lama2 jangan2 gua yang disumbang buat BELI BANDO!! gua udah ga ada duit lagi tau! SOMPRET LAH. udah gitu bando sekolah abal semua lagi, MAHAL LAGI GILA. besok gua bawa aja tuh kardus isi bando, kalo yang ini ga boleh ganti yang itu dst.

kesel gua. udah gitu gua dicuekin sama sahabat gua sendiri, internet mati dirumah jadi ga bisa ceting sama tmen2, ga bisa gila2an sama monha, ga bisa skype-an ARGH. udah gitu gua capeeeeek abis kmaren ngestingin anak2 bahasa 11 dan 12 buat english performance. salut sama tim animal farm yang waktu itu ngesting 500 anak sanur. gua ngesting 20 orang aja otak gua kayak berdarah2.

udah dulu deh sebelum gua mengeluarkan sumpah serapah. ciao.