Monday, January 2, 2012
Friday, December 16, 2011
Monday, December 20, 2010
Thursday, December 2, 2010
Tuesday, October 12, 2010
Saturday, October 9, 2010
the first letter goes to my best friend(s).
tenny
Thursday, October 7, 2010
Monday, October 4, 2010

Friday, October 1, 2010
hahaha ga lah. masih berantakan gua nulis. yang ada malu kali nulis belepotan.
sediiiih huhu. kemaren gua capek2 ke goethe, eh enggak dapet kelas. mau ulang kelas dibawahnya gak ada, mau naik ke yang sekarang ga ada juga. padahal, gua udah nganggur 2 bulan sejak pulang dari sono. masa nganggur lagi? nanti gua malah lupa semuanya.
daftar di sgu ga ya. daftar enggak daftar enggak daftar enggak daftar enggak
Monday, September 6, 2010
Saturday, August 28, 2010
Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.
"Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini," katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.
Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan malam ini memang betulan penting.
Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh cintamu ke-I, empat tahun yang lalu. "Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?" tanyaku, berusaha santai.
"Malam ini aku lahir baru."
"Kamu... bertobat?"
"Bisa jadi itu istilahnya!" tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, "Aku... selesai."
Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.
"Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!" Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.
Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.
"Kenapa?" tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.
Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, di mana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian di situ. Dan kamu tak pernah tahu itu.
Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.
"Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin." Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. "Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong..."
Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.
"Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku... dan segelas air putih."
Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.
"Tapi... aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…" katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.
Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.
"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau jam berapapun... langsung datang..." Susah payah kamu bicara.
Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.
Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu, "Keinginan itu... tidak ketinggian, kan?"
Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.
"Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?" Demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindakseumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.
"Aku akan diam," jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.
"Diam?"
"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit..."
Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.
Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan sumringah kamu berkata, "Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!"
Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.
"Kamu sakit?" Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.
"Ya."
"Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?"
"Ya."
Sebotol anggur putih ada di depan matamu,
tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti.
Segelas air putih.
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini…
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: "Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..."
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan
Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring...sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi..
Thursday, August 5, 2010
kampret lah gua kesel abis pagi2 ini. sekarang di sekolah gua ada peraturan baru LAGI: semua anak cewek HARUS pake bando. mau kek gimanapun rambutnya. dan harus BANDO DARI SEKOLAH.
sompret lah. udah tau rambut gua pendek, poni lempar begini. kalo dibando ke atas ya jelas lah ancur. padahal gua udah berbaik hati dijepit, tetep aja tadi pagi dicegat terus gua disuruh BELI bando sekolahan yang harganya 15 RIBU RUPIAH. itu duit makan gua dua hari ya mas. kesel gua. terus kalo mau pake bando sendiri ga boleh. padahal gua udah ada sekardus itu bando dirumah. lama2 miskin gua sekolah disini!!! apa2 minta duit, minta sumbangan, lama2 jangan2 gua yang disumbang buat BELI BANDO!! gua udah ga ada duit lagi tau! SOMPRET LAH. udah gitu bando sekolah abal semua lagi, MAHAL LAGI GILA. besok gua bawa aja tuh kardus isi bando, kalo yang ini ga boleh ganti yang itu dst.
kesel gua. udah gitu gua dicuekin sama sahabat gua sendiri, internet mati dirumah jadi ga bisa ceting sama tmen2, ga bisa gila2an sama monha, ga bisa skype-an ARGH. udah gitu gua capeeeeek abis kmaren ngestingin anak2 bahasa 11 dan 12 buat english performance. salut sama tim animal farm yang waktu itu ngesting 500 anak sanur. gua ngesting 20 orang aja otak gua kayak berdarah2.
udah dulu deh sebelum gua mengeluarkan sumpah serapah. ciao.
Friday, July 30, 2010

Monday, July 19, 2010
13 juli 2010
252 am
jet lag kawan2, mata masih menolak untuk menutup jam segini. kalau kemaren masih mending bisa nonton final sampai jam 5, lah sekarang mau ngapain coba? hasilnya adalah bengong dan tulisan ini.
germany was LOADS of fun! alles war ganz wunderbar! gua ga akan bisa ceritain bagaimana semuanya disana. yang pasti dalam hal bahasa, sebenarnya kalau boleh jujur kayaknya gua ga tambah pinter juga hahaha. yang jelas gua lebih ngerti kalo mereka ngomong, gua udah bisa nonton film jerman tanpa subtitle. tapi kalo disuruh ngomong balik, masih ngaco2 juga. herannya pas tes kan ada 4: nulis denger baca sama ngomong, eh ngomong gua full points. mungkin kelebihan gua adalah banyak omong, tapi ya sudahlah.
gua dapet banyak temen disana. mostly gua ngumpul sama orang2 indo sih, tapi gapapa deh, bener2 seru abis. ga bakal lupa sama semua yang sudah dialami di sana. tiap hari kerjaannya jalan2, pergi ke toko eskrim, beli pommes sama wurst, wih hidup bagaikan surga. lalu harus kembali ke indonesia yang macet, serasa bangun dari mimpi indah.
jalan2 ke heidelberg sama frankfurt, liat2 kastil, belanja gila2an! gua juga membelikan sebuah bola jabulani untuk kawan gua, yang berguna sebagai kompensasi gua nggak ngasih dia kado ultah untuk 5 tahun di belakang dan untuk 10 tahun kedepan.
tiap hari makannya kentang, krim, gitu2an lah. butter, susu, bah gua gendut jadinya. ada anak indo juga namanya ara (afghan) dia katanya naik 4 kg. gua untung naik 1 kg saja. ada juga yang turun kayak si adi, soalnya dia nggak kebiasa sama makanan begituan. untung vita bawa abon sama sambel, jadi kita semua bisa selamat melewati hari-hari pertama.
disana juga banyak yang dapet pacar. saya enggak HAHA sialan padahal udah diwejangin dapet bule sama temen2 di sini. hahaha sompreeeeeeeeeeeeet. lumayan sih ada yang menarik hati tapi apa daya, bukan salah bunda mengandung, ada beberapa hal yang menjadi penghalang. apaan sih ngelantur gua gara2 udah pagi haha. tapi kan sepersekian hati gua juga masih tertinggal di bumi pertiwi, jadi INTINYA saudara2 saya tetap tidak dapet apa2 dalam konteks pasangan. makan ati juga ya, gua dikacangin sama yang di sini, di sana juga ga dapet. nasib.
ohya, setelah gua pikir2 mungkin kalo pada akhirnya gua menikung dari cita2 awal sebagai pemusik (amit2 sih sebenernya) gua mau jadi pramugari lufthansa mungkin ga ya? ngaerep hahahaha abisnya kmaren pas gua dari singapore-frankfut ada tuh orang thailand. indonesia mungkin ga ya? pramugaranya sih oke2 tapi lekong. waktu itu ada bule ganteng, eh tapi nuang teh kelingkingnya naik. terus pas gua balik ke jakarta ada juga, nampaknya kalau ga orang jepang,korea. tapi pengem tabok, udah lekong eh belagu. jadi kan di pesawat itu 3-4-3 duduknya, gua dapet yang di 4 paling kanan. karena kaki gua panjang dan nggak muat, jadi ya keluar2 ke aisle lah. eh dia dateng bawa kereta dorong kaki gua dilindes. bukannya minta maaf, dia malah mesem terus bilang "if I'm coming, you have to be careful" EH SOMPRET mana gua tau lo dateng apa ga. sompret nyolot abis hhh emosi jadinya. si karin juga kesel, dia duduk di depan gua persis. katanya pas minta sprite, eh udah abis tapi dia jawabnya nyolot, "there's no left" abis itu pergi ga ditawarin apa2 lagi. kata karin pengen diselengkat rasanya.
huaa gua masih belum bisa tidur. tapi puas gan udah makan bakmi, pangsit goreng, nasi padang INDOMIE ya the best sama TEH BOTOL UWWWWWWWWWWOOOOOOOOOOOOHHHHH surga abis, secara di sana tiga minggu enggak makan beras ya. gua masih pengen es kelapa, pisgor, nasi liwet sama klepon. NASI YA TUHAN gua mau makan nasi sebanyak mungkin. gua ga mau makan kentang dalam sebluan kedepan ini, no kentang no mayonaise NO SOSIS dan NO BUTTER. sekedar info, selama tiga minggu tiap pagi sarapan cuma ada roti bulet2 yang kerasnya bisa buat timpuk orang , selai macem2 (coklat, strawberry, peach, cherry, madu) berbagai macam butter, cornflakes atau yoghurt. udah itu aja. yang bawa migelas atau superbubur sih bisa makan enak, lah yang enggak? gua pengen sarapan nasgor, buburayam, pisang goreng srikaya juga okelah! sama teh, disana ga ada teh normal, adanya teh aneh2 kayak earl grey, darjelling gitu2 tapi tetep ya aneh. gula juga enggak manis. makanya pas sampe soekarno hatta ada teh botol, rasanya pengen sembah sujud. ada sih yang enak, teh campur buah peach, itu seger sekali apalagi lagi summer. tiap hari kerjaan makan eskrim, jajan kentang atau chips atau sosis pake mayo. saya gendut, saya gendut.
tuh kan jadinya malah nulis panjang. tapi gua masih belom bisa tidur haha.
hal terakhir yang mau gua katakan: terimakasih Tuhan di indonesia gua bisa CEBOK. serius ini bukan jorok, tapi lo taulah bule2 kan cebok pake tissue. sekarang lo pikir kalo boker gimana hayo? ini gua pulang dari bandara kemaren langsung mandi pake detol. asli ya bule2 kenapa anda enggak cebok? apa salahnya cebok dengan air coba? pake tissue malah global warming! nanti kalo gua jadi kuliah di jerman, gua bakal bawa yang semprotan air itu terus gua install disana. lalu gua akan mensosialisasikan cebok dengan air ke bangsa eropa. seriously.
sekian dulu deh, kapan2 disambung. sudah pukul 320 am :p tschusss!
Tuesday, June 15, 2010
Saturday, June 12, 2010
Friday, June 11, 2010
Friday, May 28, 2010
Tuesday, May 25, 2010
detik ini seharusnya saya baru pulang sekolah. lalu saya tidur, karena nanti malam saya ngeles flute.
harusnya.
gua masih inget waktu pertama kali ketemu dia. orangnya gede, gendut, serem lagi. kayak preman. guru apaan nih, pikir gua. udah gitu galak lagi. gua sempet mau batal les sama orangtua gua, tapi mereka udah nganterin jauh2, jadi gua pikir yaudahlah.
itu 4 tahun yang lalu.
2 minggu terakhir ternyata les gua yang terakhir.
gua masih inget dia negur gua soalnya nggak bawa buku. "kalo kamu murid saya di ISI, blaaah udah saya suruh ngepel kali!" kata dia.
gua juga masih inget pas gua bilang gua takut sekolah musik di luar negeri soalnya gua masih cupu. "gak lah! menurut saya bisa lah kamu lah.."
sejak hari dia ngomong itu, gua yakin kalo gua bisa.
dia kadang2 mood2an. apalagi kalo gua salah2 terus.
"kamu niat main nggak? kalo nggak niat, ga usah aja sekalian. buang2 waktu."
terus sejak itu gua rajin latihan.
kadang2 kita ngomongin hal2 nggak penting. sama kayak waktu dia baru pertama kali ganti bb. "ten kamu ganti bb juga dong! gaul ha ha ha," kata dia.
dia juga jago banget main jazz. manggung di javajazz. konser di jerman. rekaman ini itu.
"wih, bapak hebat ya! saya mau dong jadi kayak bapak juga!"
"makanya latian! ntar manggung2 ten!"
gua masih inget waktu dia bantu gua nyiapin ujian abrsm.
atau waktu kita ngomongin bola.
atau waktu dia ketawa2 pas gua gugup ujian ditonton sama dia dan 3 guru lain.
gua juga masih inget terakhir dia janji mau ngajarin gua czardas.
"itu loh pak yang lagunya kayak begini.. *main beberapa nada* tapi saya nggak punya partnya. bapak punya nggak?"
"kayaknya ada, tapi saya cari dulu ya!"
terus ternyata dia lupa terus. sampai akhirnya gua bisa pinjem partnya dari temen gua. dan mau dilatih hari ini.
ternyata udah terlambat.
hari minggu, bapak udah nggak ada.
bapak udah ngajar saya lama, tiga tahun ada kali.
bapak yang ngajarin saya untuk selalu usaha.
karena bapak, saya belajar kalau musik harus dinyanyikan, dieja, diucapkan, dimainkan dari hati..
karena bapak, saya berani mimpi.
saya sedih pak. tapi saya tau, bapak nggak bakal suka saya sedih terus. jadi saya akan terus latihan.
saya janji pak. nanti suatu saat saya akan ke luar negeri. saya akan jadi pemain yang baik. saya akan main czardas, dan saya bisa bilang, "dulu saya murid pak Anto Praboe!"
Friday, May 21, 2010
third day of my exam
three days to go
Lord i'm exhausted :'(
anyway, for you who already notice the background song, yes it's Tchaikovsky's. He's my favorite! Yes and want to take him as my master degree class later when i'm studying music. Oh dear oh dear oh dear can't wait, he's like sooooo genius!
and i ran into this video, Disney Fantasia. Twas about 1940, that's why i never seen it before. I just found out that actually it was an old movie, accompanied with LIVE ORCHESTRA. *jaw dropping
sorry for being such an exaggerate-er, but i thought the music was nice. very nice.
catch yall later. tomorrow is history :(





